Selamat datang di blog ala ala ini!

Selamat datang di blog ala ala ini!

TEKNIK MENGAJAR DENGAN HATI BUKAN EMOSI









Sumber: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Sekolah_Dasar_Di_Bawah_Situjuah_Gadang_-_panoramio.jpg 

Oleh
Fajar Adinugraha, M.Pd

Mengajar itu sebuah seni. Seni itu bakat dari dalam diri. Namun, seni itu bisa dipelajari. Jadi, sebenarnya mengajar itu dapat dipelajari, jika kita mau mempelajari dengan niat dan sungguh-sungguh. Perlu direfleksikan dalam diri kita, tujuan untuk menjadi seorang guru merupakan sebuah pilihan atau tuntutan. Tugas utama guru tentunya mengajar di dalam kelas. 


Ibarat sebuah seni pertunjukan, mengajar diperlukan sebuah skenario pembelajaran yang di dalamnya memuat model atau metode pembelajaran. Model atau metode inilah yang akan digunakan sebagai skenario di dalam mengajar. Ada puluhan model pembelajaran, strategi pembelajaran, pendekatan pembelajaran dan sebagainya. Namun, terkadang hasil yang dihasilkan tidak maksimal dan tidak sesuai harapan. Ternyata, permasalahan itu terletak pada teknik pembelajaran. 


Teknik pembelajaran adalah gaya seorang guru dalam mengatur jalannya metode atau model pembelajaran. Teknik metode ceramah akan berbeda cerita jika yang melakukan adalah orang yang ahli di bidangnya dibanding dengan orang yang tidak menguasai bidangnya. Atau, orang yang sudah bertahun-tahun mengajar dibandingkan dengan guru yang baru lulus, jelaslah berbeda. Jadi, sebenarnya apapun metodenya, kuncinya terletak pada teknik mengajar yang tepat. 


Tidak ada tips yang sempurna untuk menghasilkan teknik mengajar yang tepat. Menjadi seorang guru, apalagi guru baru, tidak mungkin serta merta menemukan sebuah teknik mengajar yang dapat langsung diterima oleh siswa dan guru senior. Lalu, bagaimana sebaiknya sikap kita sebagai seorang guru agar pembelajaran bisa berjalan dengan baik? Mengajarlah dengan HATI bukan EMOSI. Apa itu mengajar dengan HATI bukan EMOSI? 


Berikut pemaparannya.


HATI terdiri dari 4 huruf yaitu: H-A-T-I

1. Hilangkan

Hilangkan disini ada 3 Hi, yaitu:


a. Hilangkan sejenak masalah pribadi

Semua orang pasti memiliki masalah dari yang kecil sampai besar. Dari yang bisa dipecahkan dalam beberapa menit, sampai berhari-hari atau berbulan-bulan. Siswa akan tahu jika guru itu sedang dirundung masalah atau tidak. Ketika guru masuk kelas, siswa sudah bisa membaca mood guru. Apabila guru sedang mendapat masalah, entah dari rumah atau pimpinan, sebaiknya lupakan sejenak. Tidak jarang, ketika ada masalah pribadi, guru akan mengajar dengan asal-asalan dan ingin marah terus. Sedikit kesalahan yang dilakukan oleh siswa selalu menjadi sorotan. Apalagi siswa yang tidak disukai oleh guru, bisa menjadi bulan-bulanan guru dan bahkan bisa mengarah ke tindakan tidak terpuji yang dilakukan oleh guru. 

b. Hilangkan stigma negatif siswa

Siswa memang datang dari latar belakang keluarga yang berbeda-beda. Bahkan, rekam jejak siswa terekam jelas di laporan siswa. Ketika siswa itu banyak membuat masalah, kita langsung mengambil sikap ancang-ancang, bahwa siswa itu merupakan sumber masalah di kelas kita. Kita langsung mengambil sikap tidak suka terhadap siswa. 

Energi tidak suka terhadap siswa malah justru akan memberikan energi negatif. Siswa tersebut menjadi tidak kooperatif terhadap kita. Seharusnya, kita cari tahu sumber masalah siswa itu di mana, dan barulah kita bisa mengambil tindakan. Biasanya masalah ini berawal dari keluarga. Menurut Zeitlin (1995) dalam Andayani (2000:10), keluarga yang sehat akan memberikan kesempatan besar bagi perkembangan anak. Namun, banyak anak mengalami masalah psikologis dari dalam keluarga.


Menjauhi siswa yang bermasalah, bukanlah solusi, tapi malah menjadi petaka. Guru perlu untuk menjaga pikiran positif, agar aura positif juga terpancar di dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Memang tidak bisa dipungkiri, itu sangat sulit. Tapi setidaknya kita mengurangi stigma negatif terhadap siswa.


c. Hilangkan rasa malas

Hidup menjadi bosan menjalani rutinitas mengajar. Bahkan untuk guru yang sudah bertahun-tahun menjalani profesinya, serasa hambar mengajar begitu-begitu saja. Buatlah inovasi mengajar, paling tidak tahun ini berbeda dengan tahun berikutnya. 

Terkadang yang masih menggunakan metode ceramah dan mencatat, catatan buku siswa dari titik sampai koma sama semua dari tahun ke tahun. Saya tidak mengatakan bahwa metode ceramah itu buruk. Hanya saja, metode ceramah akan mengurangi aktivitas siswa seperti yang menjadi ciri khas kurikulum 2013, yaitu menggunakan pendekatan saintifik. Siswa diminta untuk aktif dan tidak hanya pasif. Setidaknya, ada inovasi pembelajaran sehingga ada sesuatu yang baru. Memang mungkin sedikit repot, tapi itu dapat mengurangi rasa jenuh kita dan siswa dalam pembelajaran. 


Menurut Izhar (2016:85-86), pembelajaran dengan media sangat penting. Media bukan hanya untuk mempermudah guru dan siswa tetapi bisa meningkatkan keaktifan, kreativitas, dan membuat suasana belajar jadi menyenangkan. Jadi, mulailah berkreasi dengan media yang sederhana agar pembelajaran tidak terkesan membosankan.


2. Amati

Kegiatan mengamati keadaan dan situasi merupakan kunci untuk menentukan teknik pembelajaran yang tepat. Banyak penelitian yang mengunggulkan model atau metode pembelajaran. Kemudian, kita dengan mudahnya memutuskan untuk menggunakan model atau metode pembelajaran tersebut tanpa memperhatikan kondisi sekolah dan siswa. 

Menurut Khofifah (2013: 29-30), salah satu faktor yang mempengaruhi belajar siswa adalah aktivitas belajar di dalam kelas. Siswa takut bertanya kepada guru.  Beberapa siswa tidak mampu menjalin hubungan yang dekat dengan teman sekelas sehingga aktivitas kegiatan belajar kurang maksimal. Hal ini mengakibatkan hasil belajar yang menjadi tidak maksimal. 


Metode dan model pembelajaran yang sudah ada, perlu kita telaah terlebih dahulu. Siswa akan terlihat aktif dengan metode atau model pembelajaran tertentu. Namun, perlu kita lihat apakah indikator pembelajaran juga tersampaikan dengan baik atau belum.


Contoh lain adalah penggunaan media gawai (gadget). Penggunaan gawai (gadget) dalam pembelajaran sudah makin marak dilakukan di sekolah. Namun, apakah materi yang dipelajari akan masuk ke dalam memori jangka panjang siswa? Atau hanya sebuah gengsi belaka menggunakan gawai agar tidak ketinggalan zaman. Semua ada porsinya. Jadi, kita harus mengamati terlebih dahulu kondisi siswa dan sekolah. Kita tidak bisa “memaksa” siswa dengan metode atau model yang dianggap paling bagus. 


3. Tindakan

Tindakan yang dimaksud adalah kegiatan pembelajaran yang dilakukan. Tentunya, kita perlu membuat skenario pembelajaran. Setidaknya, gunakan kertas untuk menulis apa saja kegiatan yang akan dilakukan di kegiatan pembelajaran. Lebih baik jika menggunakan RPP. Namun, menurut saya RPP sekarang terlalu berlebihan, tidak sederhana dan bertele-tele. Hal ini berakibat waktu guru terbuang habis untuk membuat RPP. Kalaupun tidak mau menggunakan RPP yang copy paste, gunakanlah kertas atau buku kecil untuk menulis inti skenario pembelajaran. 

Dengan adanya inti skenario pembelajaran, kita akan terlihat profesional dihadapan siswa. Kita tidak seperti guru yang asal masuk kelas dan bercerita ngalor ngidul tetapi materi tidak disampaikan. Bercerita merupakan teknik pembelajaran yang bagus, dan bisa diterapkan. Namun, kita juga perlu menyelipkan materi pembelajaran di dalamnya. Pembelajaran yang sesuai skenario dapat menggunakan waktu dengan efisien dan tidak mengambil jam pelajaran lain. Tidak jarang kita jumpai, guru mengambil 10-15 menit pelajaran berikutnya. 


Selanjutnya, ketika mendidik siswa SD, dibutuhkan kesabaran yang ekstra penuh. Kadang di beberapa sekolah tertentu, peran orang tua sangat besar dalam mengatur jalannya pembelajaran di sekolah. Seharusnya, sekolah juga membantu para guru agar terus berinovasi bukan malah menjatuhkan guru ketika mendapat komplain dari orang tua terutama orang tua siswa SD.


4. Ikhlas

Semua sudah dilakukan, apapun hasilnya kita perlu terima dengan ikhlas. Semua yang kita lakukan akan menjadi berkah apabila kita mampu ikhlas melihat hasil dari pembelajaran. Banyak di antara kita sebagai guru, marah-marah kepada siswa yang remedial berulang kali. Nilai dibawah KKM hampir setengah kelas. Nilai ujian nasional dibawah 50, yang mengakibatkan peringkat sekolah anjlok. 

Guru menjadi stress dan tidak berdaya seolah-olah kita tidak berhasil mendidik siswa. Mendidik siswa tidak hanya mendidik secara akademik, tapi karakter dan non akademis juga diperlukan. Kita hanya bisa memotivasi siswa agar bisa semangat terus belajar. 


Bersyukur kita masih bisa melihat siswa bersekolah, ada juga siswa yang stress sekolah karena tidak kuat menjalani pelajaran di sekolah. Tuntutan memang banyak ke depannya, tapi kita tidak bisa mengorbankan kebahagiaan seorang anak. Memotivasi boleh tapi secara wajar dan tidak berlebihan. Lakukan semua dengan ikhlas. 


Namun, kita jarang melihat HATI kita sebelum memutuskan untuk menjadi seorang guru. Kita umumnya melihat dengan EMOSI. Emosi yang dimaksud adalah emosi negatif dari diri sendiri. Emosi terdiri dari huruf E-M-O-S-I


1. Egois

Bekerja sesuai job description itu merupakan cara kerja yang profesional. Utamakan dahulu apa yang menjadi tanggung jawab kita. Namun, kita juga perlu melihat kondisi di sekolah kita.  Kita juga perlu ambil bagian untuk memecahkan masalah bersama. Egois kadang muncul ketika itu bukan menjadi beban kita. Kita bisa mengulurkan tangan kita untuk membantu teman guru yang kesusahan. Misalnya: ada masalah mengenai pembelajaran, tentunya kita bisa memberikan solusi, atau setidaknya menjadi pendengar yang baik terhadap keluh kesah teman kita. 

Atau egois adalah memaksakan kehendak kita kepada teman guru lain. Kita menganggap ide kita paling benar, sehingga teman-teman guru wajib mengikuti ide kita. Nah, yang lebih parah adalah guru membentuk geng. Janganlah kita membentuk semacam geng untuk menghancurkan teman kita yang tidak sepaham dengan kita dan hanya membantu geng kita sendiri. Namun tidak bisa dipungkiri, memang beberapa guru banyak membentuk geng. Dimana, geng yang satu bisa menghancurkan teman yang lain. Sungguh mengerikan.


2. Materi

Bekerja memang untuk mencari materi (uang). Mustahil kita bisa hidup tanpa uang. Namun, apabila kita sebagai guru selalu mengukur pekerjaan dengan uang, itu tidak baik. Ada kalanya kita perlu melihat rejeki lain selain uang agar kita tetap bisa bersyukur.

Memang kadang membuat guru jengkel karena terkadang pemimpin sekolah tidak peka terhadap keluh kesah guru. Guru dengan gaji kecil jelas akan berpikir materi (uang) agar penghasilannya bertambah. Seharusnya pemimpin sekolah memberikan semacam reward kepada guru yang berprestasi, yang sudah meluangkan waktu dan juga materi untuk sekolah. 


3. Omong kosong
Selalu tampil di depan dan memberikan arahan tetapi pada pelaksanaannya tidak bisa dipertanggungjawabkan. Ini adalah contoh guru yang sukanya omong kosong. Menjadi seorang guru harus berpikir matang sebelum bicara dan bertindak. Karena ada pepatah klasik mengatakan “mulutmu harimaumu”. Sebenarnya untuk menjadi teladan bukanlah lewat omongan, tapi tindakan. Mulailah dari tindakan yang sederhana.

4. Sombong

Memiliki kecerdasan atau prestasi lebih di antara guru yang lain, membuat kita menjadi merasa paling hebat. Pujian demi pujian diberikan kepada kita. Namun, kita tidak sadar bahwa di luar sana ada yang lebih hebat daripada kita. Atau justru orang yang kita anggap lemah, malah memilki kecerdasan atau prestasi yang luar biasa. Ingatlah, cerita anak perlombaan antar kura-kura dan kelinci. Kesombongan akan menjadi petaka bagi kita.

5. Iri

Sikap iri muncul karena melihat orang lain lebih hebat dari kita. Kadang kita melihat rumput tetangga lebih hijau daripada kita. Namun, pernahkah kita berpikir bahwa rumput itu sintetis atau tidak? Seharusnya kita bersyukur memiliki teman yang berprestasi. Ini bisa dijadikan pemicu agar kita terus berkembang. 

Kadang-kadang kita jumpai teman guru yang selalu memfitnah tentang diri kita kepada pimpinan. Atau, bahkan kita sendiri menghalalkan berbagai cara untuk menjatuhkan teman kita agar teman kita putus asa dan mundur. Sikap iri ini sebaiknya kita hilangkan jauh-jauh. Hal ini karena hanya menyita waktu dan energi kita.


Guru perlu merefleksikan sikapnya selama ini. Apabila guru tidak bisa mengajar dengan hati tetapi dengan emosi, sebaiknya mundurlah menjadi guru. Carilah pekerjaan yang sesuai minat kita. Guru tidak akan membuat kita kaya materi. Namun, profesi guru akan membuat kita mampu menjaga HATI hingga kelak ajal menjemput kita. Menjadi guru khususnya guru SD tidak mudah. Banyak tantangan baik dari dalam maupun dari luar diri kita. Sesuatu yang tidak mudah akan menjadi mudah jika kita mau mencoba dan tidak takut untuk berinovasi. Jadilah guru yang selalu mengajar dengan HATI bukan EMOSI.


DAFTAR PUSTAKA

Andayani, B. 2000. Profil keluarga anak-anak bermasalah. Jurnal Psikologi. 1 (1): 10-11).

Izhar. 2016. Skenario pembelajaran aktif, kreatif, dan menyenangkan dalam mengembangkan kemampuan siswa menulis kalimat melalui pemanfaatan media kartu bergambar. Jurnal Pesona. 2 (1): 85-86.


Khofifah, A; Sano, A & Syukur Y. 2013. Permasalahan yang disampakan siswa kepada guru bk/konselor. Jurnal Ilmiah Konseling. 2 (2) : 26-33.


0 komentar:

Posting Komentar