Fajar Adinugraha

Tampilkan postingan dengan label biologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label biologi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Juni 2018

Katalog Buku dan Tulisan Fajar Adinugraha

Berikut disajikan tulisan karya penulis:
Nama : Fajar Adinugraha, M.Pd
No Wa/HP : 085292579064

















A. Buku
1. PREDIKSI




















  • Judul : PREDIKSI (Bahan Ajar Materi Biologi SMA X-XII untuk Persiapan Ujian Nasional dan Ujian Sekolah)
  • Pengarang : Fajar Adinugraha, M.Pd
  • ISBN :978-602-336-481-7
  • Cetakan Pertama, 1 September 2017
  • Diterbitkan oleh : Diandra Kreatif
  • Tebal : 1 cm
  • Halaman : viii+166
  • Ukuran : 13 x 19 cm
  • Harga : Rp 45.000,00 Rp 40.000,00(belum ongkir), untuk jakarta bebas ongkir
  • Sasaran : Guru Biologi dan Siswa SMA Kelas XII 



Disadari atau tidak, pelajaran Biologi di SMA menjadi sulit ketika harus menghafalkan semua materi untuk ujian baik Ujian Nasional maupun Ujian Sekolah. Buku ini hadir untuk membantu para siswa kelas XII di dalam mengingat kembali materi pelajaran dari kelas X hingga kelas XII yang disesuaikan dengan indikator yang sering keluar di Ujian Nasional maupun Ujian Sekolah. Buku ini juga dilengkapi latihan soal untuk kemampuan mengingat dan memahami. Buku ini tidak akan bermanfaat jika kalian tidak dengan bersungguh-sungguh memahaminya. Tips menggunakan buku ini: pahami dulu materi yang ada di buku ini, kemudian kerjakan latihannya, dan terakhir cocokkan dengan kunci jawaban dan pembahasannya. Semoga kalian sukses dengan kejujuran, disiplin, dan tanggungjawab. Beberapa penjelasan dapat disaksikan di channel youtube Fajar Adinugraha.

2. PANDUAN PRAKTIKUM BIOLOGI SMA




















  • Judul : Panduan Praktikum Biologi SMA (untuk siswa SMA Kelas X-XII)
  • Pengarang : Fajar Adinugraha, M.Pd
  • ISBN :978-602-336-548-7
  • Cetakan Pertama, 1 November 2017
  • Diterbitkan oleh : Diandra Kreatif
  • Tebal : 1 cm
  • Halaman : vii+211
  • Ukuan : 16 x 23 cm
  • Harga : Rp 65.000,00 Rp 60.000,00(belum ongkir), untuk jakarta bebas ongkir
  • Sasaran : Guru Biologi dan Siswa SMA 


Buku ini merupakan petunjuk praktikum Biologi untuk siswa SMA Kelas X sampai XII. Praktikum yang terintegrasi dengan teori akan mempermudah siswa untuk memahami konsep materi Biologi. Selain itu, praktikum merupakan salah satu pendekatan saintifik yang menjadi ciri khas dari kurikulum yang ada di Indonesia. Dengan melakukan praktikum, dapat dikembangkan nilai-nilai keterampilan proses sains seperti mengamati, mengukur, menganalisis, mengintepretasi, menyimpulkan dan sebagainya. Selanjutnya, buku ini dikondisikan dengan fasilitas laboratorium yang cukup untuk standar SMA. Penggabungan kegiatan praktikum dari kelas X hingga kelas XII dalam satu buku dengan maksud bahwa materi Biologi saling berkesinambungan sehingga siswa merasa perlu mempelajari setiap materi dengan serius di setiap jenjangnya. 


3. KAPSUL (Kumpulan Amunisi Pertanyaan Seputar Ujian Biologi

  • Judul : KAPSUL (Kumpulan Amunisi Pertanyaan Seputar Ujian Biologi)
  • Pengarang : Fajar Adinugraha, M.Pd
  • ISBN :978-602-336-548-7
  • Cetakan Pertama, Desember 2017
  • Diterbitkan oleh : Diandra Kreatif
  • Tebal : 1 cm
  • Halaman : vii+156
  • Ukuan : 13 x 19 cm
  • Harga : Rp 45.000,00 Rp 40.000,00 (belum ongkir), untuk jakarta bebas ongkir
  • Sasaran : Siswa SMA 


Buku ini merupakan kelanjutan dari buku PREDIKSI. Buku ini berisi kumpulan soal-soal Biologi SMA dari kelas X hingga kelas XII. Soal berupa materi-materi yang sering keluar di ujian baik ujian semester, ujian sekolah dan ujian nasional.
Selanjutnya, buku ini dapat mengukur kemampuan siswa dalam menjawab soal pilihan ganda dan soal essay. Soal yang bervariatif dari kemampuan mengingat hingga kemampuan menganalisis membuat siswa menjadi terbiasa dalam mengerjakan soal. Diharapkan siswa tidak kaget saat menghadapi tryout dan ujian-ujian.
Buku ini memang dihadirkan  tidak begitu tebal, diharapkan kalian tidak jenuh dan bosan ketika harus dihadapkan dengan buku yang tebal.
Semoga buku ini membantu kalian dalam mempersiapkan ujian nasional dan ujian sekolah. 


B. Artikel ilmiah
Bisa dilihat di google scholar Fajar Adinugraha

1.PenerapanProblem Solving dengan Game Pohon Pengetahuan untukMeningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa pada Materi Ekosistem di KelasVII C SMP 1 Purworejo


Pembelajaran IPA mencakup semua materi terkait dengan objek alam yang mengajak siswa berpikir kritis membandingkan dari beberapa masalah yang sedang dan akan terjadi sehingga menghasilkan sebuah kesimpulan dan gagasan yang dapat memecahkan masalah tersebut. Observasi awal yang dilakukan, diketahui siswa mengalami kesulitan dalam mencapai target ketuntasan minimal sebesar ≥72. Selain itu, siswa kurang aktif dalam pembelajaran. Keaktifan siswa di kelas menjadi salah satu faktor pendukung tercapainya hasil belajar yang maksimal. Guru IPA berkolaborasi dengan penulis untuk memecahkan masalah tersebut dengan menerapkan model problem solving dengan game pohon pengetahuan. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa.
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini terdiri 2 siklus, masing-masing siklus melalui empat tahapan yaitu: perencanaan, tindakan , observasi dan refleksi. Subyek penelitian adalah siswa kelas VII C SMP 1 Purworejo. Data yang akan diambil meliputi: data keaktifan siswa, data hasil belajar, data kinerja guru selama KBM, data tanggapan siswa dan tanggapan guru. Metode analisis data yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif.
Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan keaktifan dan hasil belajar siswa dari siklus I sampai siklus II. Persentase keaktifan siswa pada siklus I dan II berturut-turut:51,61 % dan 77,42% sedangkan persentase ketuntasan klasikal pada siklus I dan II berturut turut: 83,87% dan 93,55%. Kinerja guru selama pembelajaran sudah mencapai kriteria baik. Selain itu, siswa memberikan respon positif terhadap pembelajaran.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan problem solving dengan game pohon pengetahuan dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada materi ekosistem di kelas VII C SMP 1 Purworejo. Pembelajaran dengan model ini dapat digunakan untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa.


Kata kunci : problem solving, game pohon pengetahuan, ekosistem


The research objective is to determine the effect of learning model on scientific attitudes of students, self efficacy towards the scientific attitudes, and the interaction of the learning models and self efficacy towards scientific attitudes. The research method is experimental method. The analyzed data consist of self efficacy instrument test and scientific attitude instrument tests with their validity and reliability assessment. Data were taken by means of two way anova test. The result show that: 1) There is a significant effect of learning model towards student's scientific attitude. 2) There is a significant effect of self efficacy towards students' scientific attitude. 3) There is an interaction effect that is not significant to thelearning model and self efficacy towards students' scientific attitude.

Keywords: learning model, self efficacy, scientific attitudes

3.Gambaran Persepsi Peserta Didik tentangKebermanfaatan Buku Pengayaan Ujian Nasional Biologi


The objective of research is to describe the form and content of the book of enrichment for biology national exam. The title of this book is PREDIKSI. This research also describes the perceptions of students on the advantage of the book PREDIKSI. This research is a descriptive research. The methods applied for the research were study literature and survey. There were 21 samples taken from students who were using the book PREDIKSI with the number of respondents 21 students. The enrichment book entitled PREDIKSI is a book consisting of material summaries used for the enrichment sessions of the biology national exam. This book are contains of a summary of the biology materials, practical memorizing tips, short answeres, essay exercises, and a discussion of questions. The students' perceptions about this book are very positive. It is shown from the average score of students' perceptions of the usefulness of the book is 4.19. This book is expected to be the solution for the students in overcoming anxiety toward Biology National Exam.


Keywords: content of PREDIKSI book, students’ perception, advantage

4. MEDIA PEMBELAJARAN BIOLOGI BERBASIS ECOPRENEURSHIP
Abstract. The objective of the research is to describe the form of the learning media which are created by the students. The research also to know entrepreneurship skill of students in making of learning media based on ecopreneurship. The research method is descriptive research that is supported by quantitative data. The population is participants of Greenject 2017 competition, which requires 68 high school students in Jabodetabek or 34 teams. The sample is finalist of education category (learning media) as many as 10 teams (20 students). Biology learning media can be made from used materials (garbage). The used materials being used are useless paper, useless cardboard, useless iron and zinc, scrap wood, plastic and useless electronic equipment. The learning media for biology lesson which are created by students are proven worthy of using as media of learning. As a matter of fact, some learning media are worthy of mass production. The entrepreneurship skills of students are in good category (40% excellent category and 60% good category). The production of learning media from the used materials can be used as a model of green entrepreneurship education or ecopreneurship.


Keywords: learning media, entrepreneurial skill, ecopreneurship

5.Penerapan Media Kartu KUPUBIL sebagai Pengayaan 
Materi Ujian Nasional Biologi
Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk dan cara permainan media kartu KUPUBIL (Kartu Untuk Persiapan Ujian Biologi). Selain itu, untuk mengamati hasil nilai Ujian Nasional Biologi setelah dilakukan eksperimen menggunakan kartu KUPUBIL. Penelitian ini juga untuk mengetahui persepsi peserta didik tentang kebermanfaatan kartu KUPUBIL. Jenis penelitian adalah pre experimental design.  Desain penelitian adalah the one-shot case study design. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XII MIPA SMA Citra Kasih Jakarta dengan sampel 12 siswa pemilih UNBK Biologi. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive random sampling. Bentuk kartu KUPUBIL berjumlah 96 buah dengan ukuran 7,5 cm x 11 cm. Kartu berisi gambar-gambar yang sering keluar di soal Ujian Nasional. Permainan kartu ini dimodifikasi dari permainan kartu pada umumnya. Hasil menunjukkan bahwa media kartu ini mampu meningkatkan nilai Ujian Nasional. Nilai Try Out 6 (sebelum perlakuan) yaitu 67,92 sedangkan nilai Ujian Nasional (sesudah perlakuan) yaitu 73,75. Persepsi peserta didik terhadap kebermanfaatan media kartu ini adalah sangat positif. Hal ini ditunjukkan dari hasil wawancara kepada responden yang memberikan apresiasi dan merasakan manfaat dari media kartu KUPUBIL. Media pembelajaran kartu KUPUBIL dapat digunakan sebagai altenatif media pembelajaran dalam mempersiapkan Ujian Nasional Biologi.

Kata kunci: Kartu KUPUBIL; Program Pengayaan; Ujian Nasional Biologi

6.POTENSI BERAS ANALOG SUKUN SEMI INSTAN (Artocarpuscommunis) SEBAGAI BAHAN PANGAN ALTERNATIF
Bahan pangan lokal seperti buah sukun dapat digunakan sebagai bahan pangan alternatif (subtitusi) nasi dari padi. Pembuatan beras analog sukun semi instan dibuat melalui 4 (empat) tahap yaitu 1) Pencucian dan penghilangan getah sukun; 2) Pembuatan gaplek; 3) Penggilingan; dan 4) Pengemasan. Pencucian dan penghilangan getah sukun menggunakan larutan garam. Pembuatan gaplek sukun dengan dikeringkan menggunakan sinar matahari. Penggilingan gaplek menggunakan penggilingan jagung. Pengemasan menggunakan kemasan plastik dengan ukuran 500 gram dan 1000 gram. Tidak terdapat perbedaan daya terima masyarakat terhadap ketiga jenis bahan pangan yaitu nasi dari beras padi, nasi dari tiwul (gaplek singkong), dan nasi dari beras analog sukun. Hal ini karena nilai sig. 0,239 > 0,05, maka H0 diterima dan H1 ditolak.


Kata kunci: beras analog, sukun, pangan alternatif


Tulisan lain dalam google scholar bertema: pendidikan, pendidikan biologi, entrepreneurship, dan lingkungan dapat diklik pada Fajar Adinugraha

C. Tulisan di web selain www.fajarbeve07.blogspot.com

Selasa, 29 November 2016

ANGKET KINERJA GURU BIOLOGI












Keterangan:
1. Juara 3 Lomba Young Scientist Competition tk Jawa (Nataniel H, Christina F)
2. Finalis LKIR LIPI tahun 2015 tk Nasional (Leon H, Stephen Y) dan Juara II Lomba Canisius College Science Competition 2015
3. Finalis NYIA LIPI tahun 2015 tk Nasional (Nicolas A, Bryan S)
4. Juara I Lomba Karya Tulis Ilmiah tk Nasional oleh Universitas Esa Unggul (Natania H, Nicolai C)

Mohon kesediaannya untuk mengisi angket berikut ini.
Angket ini terdiri dari 4 bagian.





Terimakasih atas kesediaanya

NILAI UJIAN SEMESTER GANJIL 2016/2017 BIOLOGI

Keterangan:
Kiri : Juara Harapan I Lomba Karya Ilmiah tk Nasional Pusair Kementrian PU (Nicolas, Brilliant, Bryan) tahun 2015
Tengah : Peringkat 7 Lomba Karya Ilmiah tk Nasional Pusair Kementrian PU (Brandon H, Albert W, Leonard S) tahun 2016 , foto bersama Mr. Hermawan Suhendra (Wakasek)
Kanan : Juara II Lomba Karya Ilmiah BPK RI tk Jawa (Hennie)

Secara keseluruhan, rata rata ujian akhir semester biologi ganjil tahun 2016/2017 adalah 81.36 kategori B



















































Jakarta, 29 November 2016



Fajar Adinugraha, S.Pd

Selasa, 29 Januari 2013

BRYOPHYTA, PTERYDOPHYTA

Senin, 21 Januari 2013

Trik Belajar Biologi

Belajar Biologi bagi sebagian siswa sulit. Namun, untuk sebagian siswa sangat mudah. Terus bagaimana si cara belajar biologi yang mudah. Setiap siswa memiliki cara yang berbeda-beda dalam belajar, karena setiap siswa tahu kemampuan dirinya seperti apa. Nah mungkin ini menjadi salah satu alternatif cara belajar kalian.
1. Kenali kemampuan diri anda
    Kita harus tahu seberapa kemampuan diri kita. Kalau diri kita memiliki kemapuan biologi pas-pasan ya janganlah terlalu dipaksa. Namun, kemampuan yang pas-pasan kalau kita asah pasti akan menjadi kemampuan yang luar biasa. Nilai target anda berapa di kelas. Minimal sesuai batas KKM dulu deh. Atau 5 poin di atas KKM.
2. Dengarkan guru walaupun membosankan
     Pembelajaran yang bertubi-tubi dalam satu hari memang membuat siswa bosan. Guru memang perlu memberikan inovasi dalam pembelajaran. Namun, masalah materi yang terlalu buaaaanyak dan kegiatan sekolah yang tiada henti-hentinya membuat waktu kurang. Itu, juga perlu dipahami kamu sebagai siswa. Nah, cukup kamu dengarkan kalau perlu buat catatan kecil. Meskipun hari itu tidak paham, bisa ditanyakan di luar jam pelajaran.
3. Jangan anggap buku cetak adalah KITAB SUCI
    Mana mungkin??? Semuanya mungkin. Bagaimana cara memahami biologi? Memahami biologi sama halnya memahami perasaan cinta seseorang. Kita perlu melihat hati/ruhnya dulu baru luarnya. Demikian juga biologi, kita harus tahu pokoknya dulu. Jangan dihafal per kalimat. Emang kau mau jadi mbah dukun? Aduuuh pak, aku takut ketinggalan materi di buku kalau keluar ulangan berabe deh.. (lagian yang keluar paling 1 atau 2 soal, kan masih 9 nilainya). Buatlah peta konsep atau mind map. Belajar biologi harus tahu dulu akar permasalahan/ materinya dulu baru yang lain.
4. Bacalah 5 menit
    Bacalah minimal 5 menit judul atau gambar gambar yang ada di buku cetak kamu. Setidaknya kamu tahu apa yang kamu bahas. Jangan cuma BBM/twitter/fb nan.
5. Kerjakan LKS/LDS dari guru
    LKS/LDS yang dipersiapkan guru pasti sudah dipikirkan. Jadi kemungkinan itu yang penting-penting.
6. Lakukan kegiatan di kelas sesuai petunjuk jangan banyak protes.
    Protes mengurangi energi dan tanpa hasil. Melakukan kegiatan di kelas paling tidak 50 % materi terserap. Ditambah belajar lagi di rumah 75 %. Nah tuntas KKM donk...

Demikian tips belajar BIOLOGI. Belajar BIOLOGI belajar memahami diri sendiri dan kehidupan anda. 
  
  

Rabu, 16 Januari 2013

Inseminasi buatan pada domba




























INSEMINASI BUATAN PADA DOMBA


Disusun guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Dasar Bioteknologi



Dosen pengampu : Ibu Siti Harnina Bintari
Ibu Enni Suwarsi Rahayu
    Bapak Sumadi



Disusun oleh :
1.   Sri Lestari       4401407010
2.   Fajar Adinugraha  4401407029
3.   Nurul Anisa       4401407051
Rombel 02




JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2010

BAB I

PENDAHULUAN
Inseminasi buatan atau Artificial Insemination adalah proses penempatan semen ke dalam alat reproduksi betina dengan bantuan manusia dengan tujuan agar ternak betina tersebut bunting. Dengan demikian jelaslah bahwa Inseminasi Buatan sendiri tidak dapat memperbaiki mutu ternak akan tetapi Inseminasi Buatan  merupakan cara yang tepat untuk sarana perbaikan mutu genetik ternak.
Tiga hal pokok yang harus dikerjakan dalam melakukan Inseminasi Buatan adalah pengambilan semen, perawatan semen yang terdiri dari pemeriksaan semen, pengenceran semen dan penyimpanan semen serta Inseminasi Buatan. Inseminasi Buatan sendiri memiliki banyak hal yang harus diperhatikan yaitu ketepatan dalam pendeteksian birahi, ketepatan dalam melakukan Inseminasi Buatan. Keberhasilan Inseminasi Buatan sangat menentukan tingkat keberhasilan kebuntingan.
Tujuan dari Praktikum Inseminasi Buatan adalah untuk mengetahui tentang pelaksanaan dan teknik Inseminasi Buatan. Manfaat dari Praktikum Inseminasi Buatan adalah praktikan dapat melakukan Inseminasi Buatan melalui pengenalan alat-alat inseminasi buatan, serta teknik pelaksanaan Inseminasi Buatan melalui metode spekulum dan metode rektovaginal.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Persiapan pejantan yang akan ditampung
Perlakuan yang baik dan hati-hati terhadap pejantan diperlukan untuk memberikan rangsangan sebagai persiapan sebelumnya, karena rangsangan ini akan dapat menaikkan kualitas dan kuantitas semen yang ditampung (Salisbury dan Vandemark, 1985). Pemilihan pejantan yang baik lebih mudah dan lebih cepat dilaksanakan hingga pejantan yang baik dapat di sebarkan bibitnya sewaktu ia berumur muda, hal ini dapat diterangkan sebagai berikut; seekor pejantan dari keturunan baik setelah dewasa di ambil semennya dan disebarkan ke hewan-hewan betina yang berada dalam kondisi yang berbeda (Partodihardjo, 1980).

2.2. Penampungan semen

Penampungan semen dapat dilakukan dengan menggunakan vagina buatan. Penampungan semen dianjurkan untuk menggunakan domba betina pemancing atau dummy. Caranya adalah domba jantan dihadapkan ke domba betina pemancing, sedangkan penampung menyongkok di sebelah kanan domba pemancing (Murtidjo, 1993). Menurut Partodihardjo (1980), penampungan semen dapat dilakukan dengan cara mengurut-urut vesicular seminalis dan ampula utetra ternak jantan dengan tangan yang disebut dengan cara massage atau palpasi dalam. Selain itu dikenal pula cara lain yang menggunakan alat elektris yang disebut elektro ejakulator.
Cara yang lain dapat lakukan dengan menggunakan elektro ejakulator. Elektro ejakulator terdiri dari sebuah transformator yang dihubungkan dengan suatu batang yang disebut rectalprobe, dimana batang ini dilumasi sabun atau bahan pelumas lain kemudian dimasukkan ke dalam rektum sehingga cincin elektroda terakhir tepat di anus. Penis dipegang dengan perban gas steril dan processus filifomis pada ujung penis diarahkan ke tabung sperma untuk mencegah kontaminasi (Murtidjo, 1993). Arus listrik akan merangsang organ reproduksi yang terletak persis di bawah dinding ventral rektum dan menyebabkan timbulnya ejakulasi (Blakely dan Bade, 1998).

2.3. Pemeriksaan semen
Segera sesudah penampungan di adakan pemeriksaan umum terhadap ejakulat di dalam tabung penampung, pemeriksaan ini terdiri dari pengamatan secara makroskopis dan mikroskopis (Salisbury et al., 1984).
Pemeriksaan semen meliputi pemeriksaan secara makroskopis dan mikroskopis. Pemeriksaan semen secara makroskopis antara lain volume semen, warna senem, konsistensi semen, pH semen dan bau semen. Volume semen yang di pancarkan oleh pejantan dapat berbeda-beda menurut umur pejantan, ras hewan, besar dan berat hewan, frekuensi penampungan dan beberapa faktor lainnya. Volume semen terejakulasi pada domba rata-rata 1 ml, jumlah sperma perejakulasi 3.000.000.000, konsentrasi sperma per ml 3.000.000.000 dengan penampungan dalam seminggu 7-25 kali (Partodihardjo, 1980). Kemudian warna semen, Semen yang berwarna hijau kekuning-kuningan biasanya banyak mengandung kuman Pseudomonas auroginosa yang menandakan adanya peradangan yang kronis dalam saluran reproduksinya, semen yang berwarna merah atau kemerah-merahan menandakan bahwa semen itu mengandung sedikit atau banyak darah, semen yang berwarna coklat atau kecoklat-coklatan menandakan bahwa semen itu mengandung darah yang telah hancur atau busuk dan semen yang berwarna krem tua sampai kuning disebabkan oleh banyaknya jumlah pigmen riboflavin yang menurut banyak pendapat tidak berpengaruh pada spermatozoa maupun kesuburan semen (Partodihardjo, 1980). Konsistensi atau derajat kekentalan dari semen dapat diperiksa dengan cara menggetar-getarkan tabung yang berisi semen, semen yang baik kekentalannya hampir sama atau sedikit lebih kental dari susu sedangkan yang jelek baik warna maupun kekentalannya sama dengan air buah kelapa (Partodihardjo, 1980). Kemudian pH semen, pH Semen normal yang dikumpulkan condong ke arah asam dari pH normal dengan variasi sekitar 6,5-6,9 dengan rata-rata sekitar 6,75, tetapi pHnya bervariasi dengan kisaran yang luas yaitu dari sekitar 6 atau di bawahnya sampai 8,0 atau sedikit diatasnya, semen yang berkualitas baik biasanya lebih ke arah asam (pH rendah) dari pada semen dengan konsentrasi spermatozoa yang rendah (Salisbury et al., 1984).
Pemeriksaan semen secara mikroskopis meliputi: menaksir kualitas semen, menaksir prosentase sperma yang hidup dalam semen, menghitung sperma dengan hyemosytometer, menghitung sperma yang hidup dan yang mati dengan pewarna dan melihat morfologi sperma serta menghitung spema yang normal dan abnormal (Partodihardjo, 1980).

2.4. Pengenceran semen
Pengenceran semen segar yang sangat pekat merupakan langkah yang harus dilakukan sebelum suatu ejakulat bisa digunakan pada sejumlah hewan betina, abila semen tersebut akan digunakan segera setelah penampungan pengenceran memakai larutan garam isotonis tetapi bila akan disimpan untuk jangka waktu singkat diperlukan bahan pengencer yang lebih komplek. Penyusun utama bahan pengencer tersebut diringkas sebagai berikut : 1) substrat metabolis (biasanya gula); 2) elektrolit dengan konsentrasi yang tepat guna untuk melindungi spermatozoa terhadap perubahan pH dan tekanan osmose; 3) komponen dengan berat molekul tinggi, seperti yang ada pada kuning telur atau susu untuk melindungi spermatozoa terhadap pengaruh merusak dari pendingin; 4) antibiotik (Hunter, 1995). Fungsi pengenceran yaitu : 1) memperbanyak volume supaya semen yang didapat itu dibagi-bagi untuk memenuhi tujuan, menginseminasi banyak betina dari satu ejakulasi ; 2) pelindung spermatozoa yaitu pengencer harus mengandung komponen-komponen buffer, sehingga dapat mempertahankan pH dalam waktu lama ; 3) sumber nutrisi yaitu mengandung sumber energi yang diperlukan sperma untuk mempertahankan hidupnya dalam waktu lama di luar tubuh ; 4) bakteriostatik atau bakteriside yaitu pengencer harus mengandung zat-zat sehingga jasad renik dalam semen dapat dihentikan aktivitasnya (Partodihardjo, 1980).
2.5. Pembekuan semen


Jerami plastik atau straw yang digunakan berukuran panjang 12 cm atau, dalam bentuk mini, 4 cm, dapat pula straw mini yang panjang seperti straw biasa tetapi volumenya lebih kecil (Toelihere, 1985). Dijelaskan lebih lanjut bahwa salah satu ujungnya disumbat dengan kapas tak menyerap (non-absorbent cotton). Straw yang telah diberi identifikasi seperlunya dijepit atau dietakkan pada patron yang dapat memuat 15 straw. Semen yang telah diencerkan dihisap ke dalam straw dengan menggunakan pompa penghisap yang akan dijalankan oleh tenaga listrik. Ujung straw yang terbuka ditekankan ke atas serbuk perekat polyalcohol. Kemudian straw dimasukkan ke dalam air pada penangas bersuhu 210C, dan setelah selesai semuanya, disimpan di dalam kamar dingin bersuhu 50 C untuk ekuilibrasi selama kurang lebih 12 jam. Selama waktu ini straw dikeringkan dan ditempatkan di atas grill. Spermatozoa umumnya dipak atau dibungkus dalam polyvinyl chlorida dalam bentuk straw dengan volume antara 0,25-0,50 ml. Metode standar pembekuan straw adalah penggantungan satu-satu ke dalam rak beruap Nitrogen. Semakin cepat pembekuan semen, lebih baik hasilnya (Murtidjo, 1993).

2.6. Pelaksanaan Inseminasi Buatan

Dahulu dikenal 2 metode inseminasi pada sapi yaitu dengan menggunakan speculum atau vaginoskop dan metode rektovaginal.
Metode vaginoskop atau alat penguak vagina yang terdiri dari gelas, plastic atau logam dengan diameter yang sesuai. Dengan bantuan lampu yang terdapat di ujung vaginoskop dan menerangi cervix, dan dengan suatu pipet inseminasi terdiri dari gelas atau plastik yang cukup panjang, semen dideposisikan ke dalam pangkal cervix.
Metode rektovaginal dilakukan dengan mendahulukan pemasukan pipet inseminasi ke dalam vagina sebelum memasukkan tangan ke dalam rektum  (Toelihere, 1985). Inseminasi rektovaginal dilakukan dengan cara memasukkan tangan yang bersarung karet ke dalam rectum ternak untuk memegang cervix. Pipet inseminasi dimasukkan ke dalam cervix dengan pengarahan tangan yang bersarung karet di dalam rektum. Pemasukan pipet inseminasi ke dalam vagina sebaiknya dengan ujung menghadap ke atas dengan sudut 20-30 derajat (Salisbury dan Vandemark, 1985).

2.7. Penilaian Inseminasi Buatan
Pada perkawinan normal jarang ditemukan suatu keadaan dimana hewan jantan dan betina mencapai kapasitas kesuburan 100%. Walaupun masing-masing mencapai tingkatan kesuburan 80%, pengaruh kombinasinya menghasilkan anka konsepsi sebesar 64%. Teknik Inseminasi yang baik akan mempertahankan nilai ini, akan tetapi setiap penurunan efisiensi reproduksi merupakan suatu persamaan factorial dari ketiga variabel yaitu prosentase kesuburan jantan x prosentase kesuburan betina x prosentase efisiensi kerja inseminator (Toelihere, 1985). Sebaiknya  dalam satu kali inseminasi hanya dipergunakan sejumlah kecil volume semen, karena jumlah semen yang besar dapat menimbulkan kesakitan pada domba betina, serta dapat membanjiri vagina. Angka konsepsi yang dapat dicapai dalam satu kali inseminasi berkisar antara 50-80% (Murtidjo, 1993).

BAB III

ALAT, BAHAN DAN METODE
Praktikum Teknologi Bioreproduksi dengan materi Inseminasi Buatan dilaksanakan pada hari Jumat, tanggal 18 April 2008 di Laboratorium Ilmu Pemuliaan dan Reproduksi Ternak Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro Semarang. Dalam materi ini ada tiga tahapan yang harus dikerjakan,yaitu penambilan atau penampungan semen, perawatan semen, dan Inseminasi Buatan.

3.1. Alat Dan Bahan

Bahan yang digunakan pada praktikum Inseminasi Buatan ini antara lain :
1 seekor domba betina pemancing
2.seekor domba pejantan
3.semen cair hasil penampungan
4.air hangat
5.sodium sitrat 0,29 gram
6.aquades 10 ml, da
7 kuning telur 17 ml .
Sedangkan alat yang digunakan antara lain :
vagina buatan, speculum, pompa, mikroskop, pipet hisap berskala, haemocytometer, indicator universal, tabung reaksi, pipet ukur, objek glass, deck glass, squit, beker glass, alumunium foil, timbangan.



3.2. Metode

Metode yang dilakukan adalah pembuatan pengencer, penampungan semen, pemeriksaan semen, pengenceran semen, pengemasan semen dan pelaksanaan Inseminasi Buatan pada domba.

3.2.1. Pembuatan pengencer
Pengencer yang akan digunakan adalah sitrat kuning telur. Pembuatan pengencer akan diawali dengan pembuatan stock solution yaitu larutan natrium sitrat, selanjutnya dilakukan mencampur kuning telur yang telah dihilangkan selaput kuning telurnya dan kemudian menyaring kuning telur tersebut, menyimpan pengencer dalam lemari pendingin dengan suhu 2-8°C.

3.2.2. Penampungan semen
Penampungan semen domba dilakukan dengan menggunakan metode vagina buatan. Untuk pemancing digunakan betina berahi atau pejantan pemancing.

3.2.3. Pemeriksaan semen
Pengamatan makroskopis yaitu dengan pengamatan volume, warna, kekentalan dan bau semen. Pengamatan mikroskopis yaitu dengan penilaian  motilitas, konsentrasi, hidup/mati spermatozoa dan gerakan massa spermatozoa.

3.2.4. Pengenceran semen
Pengenceran semen diawali dengan penghitungan angka pengenceran semen. Bahan pengencer yang digunakan adalah sitrat kuning telur.




3.2.5. Pengemasan semen
Pengemasan semen dilakukan dengan menggunakan ministraw. Proses pemasukan (filling) semen dilakukan dengan menggunakan spuit, sedangkan proses penutupan straw dilakukan dengan menggunakan manual sealing machine.

3.2.6. Pelaksanaan Inseminasi Buatan pada domba
Pelaksanaan inseminasi pada domba dilaksanakan dengan metode speculum atau vaginoskop.


  

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Pembuatan pengencer
Pembuatan pengencer menggunakan sitrat kuning telur dimana kuning telur berfungsi sebagai sumber energi.
Langkah – langkah dalam pembuatan pengencer:
1.Membuat stock solution dengan bahan sodium sitrat dan mencampurnya dengan aquades 10 ml.
2.Mencampur kuning telur yang telah dihilangkan selaput kuning telurnya dan menyaring menggunakan kertas saring.
3.Menyimpan dalam lemari pendingin dengan suhu 2-8°C selama satu hari. Hal ini sesuai dengan pendapat Salisbury dan Van Demark (1985) yang menyatakan bahwa fungsi kuning telur antara lain mencegah terjadinya shock dingin karena mengandung lechitine,melindungi kesempurnaan sifat koloit karena mengandung lipoprotein, sebagai makanan spermatozoa karena mengandung glukosa, vitamin dan bermacam-macam asam amino serta mencegah terjadinya glutinasi karena dapat menghalangi teroksidasinya anti glutinasi.

4.2. Persiapan pejantan yang akan ditampung
Pejantan pada saat praktikum tingkah lakunya baik dan memiliki kemampuan untuk menaiki betina sangat agresif. Selain itu pejantan yang dipilih memiliki keturunan yang baik dari induknya. Hal ini sesuai dengan pendapat(Salisbury dan Vandemark, 1985) yang menyatakan bahwa perlakuan yang baik dan hati-hati terhadap pejantan diperlukan untuk memberikan rangsangan sebagai persiapan sebelumnya, karena rangsangan ini akan dapat menaikkan kualitas dan kuantitas semen yang ditampung. Dijelaskan lebih lanjut oleh (Partodihardjo, 1980) yaitu pemilihan pejantan yang baik lebih mudah dan lebih cepat dilaksanakan hingga pejantan yang baik dapat di sebarkan bibitnya sewaktu ia berumur muda, hal ini dapat diterangkan sebagai berikut; seekor pejantan dari keturunan baik setelah dewasa di ambil semennya dan disebarkan ke hewan-hewan betina yang berada dalam kondisi yang berbeda.

4.3. Penampungan semen
Penampungan semen menggunakan vagina buatan yang dipakai pada saat praktikum terdiri dari ebonit, tulip, karet pengikat, tali atau karet, air hangat dengan temperatur 470C dan pelicin.
Tabung ebonit adalah bagian dari vagina buatan yang berfungsi untuk penampungan air panas untuk menyamakan suhu di dalamnya dengan suhu vagina aslinya, sehingga sperma bisa bertahan beberapa menit. Tabung ebonit ini sudah terpasang karet tipis yang telah dilipat dan diikat. Saat akan melakukan penampungan tabung ini akan dipasang tabung penampung pada bagian ujungnya dan akan diolesi pelicin sepertiga dari vagina buatan.
Tabung ini terdapat pentil pada bagian atas yang berfungsi untuk memasukkan air hangat. Pada bagian dalam tabung ebonit dipasang sebuah termometer untuk mengukur suhu air di dalam tabung sehingga tahu saat yang tepat untuk menggunakan vagina buatan sebagai alat untuk menampung semen, karena suhu didalam vagina buatan sangat mempengaruhi kondisi semen selama penampungan. Hal ini sesuai dengan pendapat Toelihere (1985) yang menyatakan bahwa suhu yang tepat dapat ditentukan di tempat penampungan memakai thermometer steril yang berkapasitas sampai 1000 C. Lebih lanjut dijelaskan bahwa apabila suhu vagina buatan terlampau rendah, pejantan tidak mau berejakulasi; kalau terlalu panas, akan membunuh spermatozoa atau menyakiti pejantan dan menyebabkan takut atau enggan melayani vagina buatan.

4.4. Pemeriksaan semen

Pemeriksaaan semen meliputi pemeriksaan makroskopis dan pemeriksaan mikroskopis.
4.2.1. Pemeriksaan makroskopis
Pemeriksaan makroskopis adalah pengamatan visual terhadap semen. Pengamatan yang dilakukan adalah:
1)Volume semen
Berdasarkan hasil praktikum didapat volume semen sebanyak 1 ml. Volume ini termasuk normal. Hal ini sesuai pendapat Partodihardjo (1980) yang menyatakan bahwa volume domba sebesar 1ml.
2)Warna semen
Berdasarkan praktikum didapat warna semen putih susu. Warna ini menunjukkan semen normal.
3)Konsistensi semen
Berdasarkan praktikum didapat bahwa konsistensi semen domba tinggi. Hal ini berarti plasma semen dalam jumlah yang sedikit, sehingga konsentrasi sperma tinggi. Konsistensi merupakan derajat kekentalan.
4.2.2. Pemeriksaan mikroskopis
Hasil pemeriksaan dari semen domba diperoleh Progresive Motility (PM) semen 75%. Partodihardjo (1982) menyatakan bahwa jumlah spermatozoa yang bergerak ditaksir dan dinyatakan dalam persen dibandingkan dengan yang tidak bergerak sedangkan perbedaan penaksiran hanya dalam puluh persen jadi janganlah ditaksir sedemikian detailnya misalnya sampai 25%, 32% tetapi cukup dengan 50%, 60%, 80% dan sebagainya.
Berdasarkan praktikum didapatkan persentase sperma yang hidup sebesar 75%. Hal ini sesuai dengan pendapat Partodihardjo (1980) yang menyatakan bahwa pada waktu semen segar dicampur dengan zat warna tertentu maka spermatozoa yang hidup tidak menghisap warna atau kalaupun menghisap hanya sedikit saja. Berbeda dengan sel yang mati, sel ini secara kenyang menghisap zat warna sehingga dibawah mikroskop terlihat jelas perbedaan antara sel-sel yang manghisap zat warna dan yang tidak menghisap zat warna.
Konsentrasi sperma. Berdasarkan hasil praktikum didapat konsentrasi sperma 3500 x 106 ml/mm3. Konsentrasi sperma ini termasuk tinggi. Hal ini sesuai dengan pendapat Partodihardjo (1980) yang menyatakan bahwa konsentrasi sperma sebesar 300 x 107 ml/mm3.

4.5. Pengenceran semen
Berdasarkan hasil praktikum volume semen setelah diencerkan adalah 10,5 ml, dan volume pengencer sebanyak 10,2 ml.
Bahan pengencer adalah sitrat kuning telur. Salisbury dan Van Demark (1985) menyatakan bahwa fungsi kuning telur antara lain mencegah terjadinya shock dingin karena mengandung lechitine, melindungi kesempurnaan sifat koloit karena mengandung lipoprotein sebagai makanan spermatozoa karena mengandung glukosa, vitamin, dan bermacam-macam asam amino serta mencegah terjadinya glutinasi karena dapat menghalangi teroksidasinya antiglutinasi.
Fungsi dari pengencer tersebut adalah untuk memperbanyak volume semen, melindungi spermatozoa, sebagai sumber nutrisi. Hal ini sesuai dengan pendapat (Partodihardjo, 1980) yang menyatakan bahwa fungsi pengenceran yaitu: 1) memperbanyak volume supaya semen yang didapat itu dibagi-bagi untuk memenuhi tujuan, menginseminasi banyak betina dari satu ejakulasi; 2) pelindung spermatozoa yaitu pengencer harus mengandung komponen-komponen buffer, sehingga dapat mempertahankan pH dalam waktu lama; 3) sumber nutrisi yaitu mengandung sumber energi yang diperlukan sperma untuk mempertahankan hidupnya dalam waktu lama di luar tubuh; 4) bakteriostatik atau bakteriside yaitu pengencer harus mengandung zat-zat sehingga jasad renik dalam semen dapat dihentikan aktivitasnya.

4.6. Pembekuan semen
Sebelum pembekuan, melihat motilitas sampel straw dengan menggunting bagian tengah straw lalu meneteskan ke objek glass dan menambah NaCl kemudian menutup dan mengamati dengan perbesaran 100x, menuangkan nitrogen cair ke container lalu mencelupkan straw ke nitrogen cair dengan mengambil straw dengan magnet dan menggantung satu-satu, menaruh goblet, menaruh canister posisi gotri di atas, memasukkan container kemudian menutup container tersebut selama 10 menit. Menurut (Murtidjo, 1993) metode standar pembekuan straw adalah penggantungan satu-satu ke dalam rak beruap nitrogen. Semakin cepat pembekuan semen, lebih baik hasilnya.

4.7. Pelaksanaan Inseminasi Buatan
Noor (2002) menyatakan bahwa prosedur thawing adalah menempatkan straw dalam air hangat dengan suhu 34-360C selama 30 detik atau lebih, mengusahakan agar straw tidak semuanya tenggelam dalam air dan suhu cairan thawing harus selalu diukur dengan menggunakan termometer. Pernyataan tersebut sesuai dengan pelaksanaan sebelum melaksanakan IB dilakukan thawing dengan cara mengambil semen beku dalam canister di dalam container, kemudian memasukkannya ke air hangat bersuhu 370C selama 30 detik.
Hal pertama yang dilakukan sebelum melaksanakan IB adalah menyiapkan domba betina berahi dan alat-alat, serta melakukan thawing. Setelah itu proses selanjutnya adalah mengelap dan memotong ujung straw. Kemudian ujung straw yang terpotong dimasukkan ke insemination gun. Menurut Noor (2002), straw harus dijepit pada ujungnya untuk menghindari perubahan suhu yang mendadak, angkat straw dari cairan thawing dan lap sisa-sisa cairan thawing dengan menggunakan kertas pengisap, pegang ujung straw yang ada penyumbat kapasnya dengan menggunkan ibu jari dan telunjuk kemudian melakukan pemilinan untuk mengendorkan penyumbat.
Setelah itu memasukkan insemination gun ke vagina dan menembakkan isinya ke dalam. Kemudian mengeluarkan insemination gun dengan cara memutar spekulum secara vertikal dan tarik keluar. Hunter (1995) menyatakan bahwa inseminasi dalam serviks dengan spekulum dilakukan dengan  mengarahkan pipet inseminasi dari plastik sekali pakai atau pipa jerami ke mulut serviks dengan bantuan tangan lewat dinding rectum untuk mengangkat serviks, dan selanjutnya pipet dimasukkan ke dalam saluran serviks. Dijelaskan lebih lanjut bahwa dalam satu kali inseminasi hanya dipergunakan sejumlah kecil volume semen, karena jumlah semen yang besar dapat menimbulkan kesakitan pada domba betina, serta dapat membanjiri vagina.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diperoleh dari Praktikum Inseminasi Buatan adalah
1.Mengetahui tentang peralatan berbagai macam peralatan inseminasi buatan kita dapat mengetahui penggunaan alat tersebut beserta fungsi dan waktu yang tepat dalam penggunaannya.
2.Mengetahui dan mendapatkan simulasi untuk melaksanakan inseminasi buatan yang baik, tepat sesuai prosedur sehingga jika terus terlatih dalam hal inseminasi maka diharapkan hasil yang diperoleh dalam inseminasi buatan lebih baik dan memuaskan, hal tersebut semuanya didukung oleh pengetahuan kita dalam inseminasi buatan serta ketrampilan dan kemampuan kita dalam inseminasi buatan.

5.2. Saran
Pemilihan domba betina yang sedang berahi dan domba jantan yang mempunyai kualitas sperma yang bagus akan lebih memperlancar kegiatan praktikum.


DAFTAR PUSTAKA


Blakely, J dan David H. Bade. 1998. Ilmu Peternakan. Gadjah Mada University Press,Yogyakarta. (Diterjemahkan oleh: Bambang Srigandono dan Soedarsono).

Hunter, R. F. 1995. Fisiologi dan Tekonologi Reproduksi Hewan Betina Domestik. Penerbit Institut Teknologi Bandung, Bandung. (Diterjemahkan oleh : D. K. Harya Putra).
Murtidjo, A. 1993. Memelihara Domba. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.

Partodihardjo, S. 1980. Ilmu Reproduksi Hewan. Penerbit Mutiara. Jakarta.

Salisbury, G. W., N. L. Van de mark dan R. Djanuar. 1985. Fisiologi Reproduksi dan Inseminasi Buatan pada Sapi. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Toelihere, MR. 1985. Inseminasi Buatan pada Ternak. Penerbit Angkasa, Bandung.