Gambar. 1 Virus Dengue
C. GEJALA UMUM PENYAKIT DEMAM
BERDARAH DBD
Penderita DBD dapat menunjukkan
gejala batuk, pilek, muntah, mual, nyeri tenggorok, nyeri perut, nyeri otot
atau tulang, nyeri kepala, diare, kejang atau kesadaran menurun. Gejala ini
juga dijumpai pada berbagai penyakit infeksi virus atau infeksi bakteri lainnya
yang menyerang tubuh.
Menurut kriteria WHO (World
Health Organization) diagnosis DBD hanya dibuat berdasarkan gejala klinis dan
pemeriksaan laboratorium trombosit dan hematokrit. Gejala pada penyakit demam
berdarah diawali dengan demam tinggi yang mendadak 2-7 hari (38°C – 40°C)
disertai manifestasi pendarahan berupa bintik perdarahan di kulit, pendarahan
selaput putih mata, mimisan atau berak darah.
Penyakit ini ditandai oleh
pembesaran hati, syok atau tekanan nadi menurun menjadi 20 mmHg atau kurang,
tekanan sistolik sampai 80 mmHg atau lebih rendah. Pemeriksaan laboratorium
didapatkan penurunan trombosit sampai kurang dari 100.000 /mm³ pada hari ke
III-V dan meningkatnya nilai hematokrit (>40%).
Sering dijumpai penderita DBD
juga mengalami pitfall diagnosis sebagai penyakit tifus. Kesalahan lain, sering
dianggap bahwa demam disebabkan karena penyakit DBD dan tifus secara bersamaan.
Kesalahan ini sering terjadi karena pemahaman yang kurang baik tentang dasar
diagnosis penyakit, perjalanan penyakit dan interpretasi laboratorium.
Pola demam pada DBD biasanya
mendadak tinggi, terus menerus tidak pernah turun dalam 2 hari pertama, menurun
pada hari ke III dan meningkat lagi hari ke IV-V. Demam pada penyakit tifus
biasanya tinggi terutama malam hari. Pada penderita DBD sering ditemukan juga
peningkatan hasil Widal.
Pemeriksaan Widal adalah
identifikasi antibodi tubuh terhadap penyakit tifus. Kejadian seperti inilah
yang menimbulkan kerancuan diagnosis DBD. Padahal pada penyakit tifus pada
minggu awal panas biasanya malah tidak terdeteksi peningkatan titer Widal
tersebut. Bila hasil pemeriksaan widal meningkat tinggi pada awal minggu
pertama, tidak harus dicurigai sebagai penyakit tifus.
D. ANTISIPASI DEMAM BERDARAH
Dalam mengantisipasi wabah
demam berdarah (DBD), Departemen kesehatan kini tengah meneliti virus DBD yang
diambil dari sampel darah pasien di sejumlah daerah. Namun penelitian tersebut
belum secara luas dilakukan akibat terhambat ketiadaan dana, seperti dikatakan
dalam liputan6.com.
Suatu inovasi teknologi guna
membantu mengatasi wabah DBD telah berhasil ditemukan. Inovasi teknologi yang
dihasilkan Balittro tersebut berupa plasma nutfah tanaman obat, khususnya untuk
pengobatan DBD. Tanaman obat tersebut harus dicampurkan satu dengan lainnya
agar tercipta suatu ramuan obat alami. Salah satu ramuan alami untuk mengobati
DBD berupa sirup kesehatan.
Untuk membuatnya diperlukan
bahan-bahan berupa kunyit (2-4 jari), temu ireng (2-3 buah), dan daun meniran
(3-4 pohon). Selain itu diperlukan pula daun pepaya tua (2 lembar), daun jambu
biji merah (2-3 lembar), serta garam secukupnya.
Semua bahan tersebut dicuci
bersih, lalu dihancurkan menggunakan blender. Campurkan pula satu gelas air ke
dalamnya. Peras ramuan tersebut dan minumkan hasil perasannya setiap empat jam
sekali. Lalukan hal tersebut secara berulang hingga pulih.
Ramuan tersebut cukup manjur
untuk mengobati DBD dan tidak menimbulkan efek sampaing bagi kesehatan. Hal ini
dikarenakan bahan-bahan yang digunakan sebagai dasar ramuan mengandung berbagai
macam khasiat. Daun pepaya dan jambu biji merah diyakini dapat membunuh virus
DBD. Kunyit diketahui sebagai anti biotik, sedangkan temu ireng dapat
menyembuhkan luka lambung. Adapun meniran berguna untuk menaikan jumlah
trombosit, dan garam dapat menaikkan tekanan darah.
F. KONTROVERSI MESIN
"FOG"
Pengasapan dengan insektisida
untuk membasmi nyamuk dewasa Aedes aegypti, sebagai pembawa virus dengue
penyebab penyakit DBD, dilakukan dengan menggunakan mesin fog(mesin pembuat
kabut asap) yang dapat dipasang pada pesawat terbang, kapal ataupun kendaraan
bermotor lainnya, dan terdapat pula jenis mesin fog yang dapat dijinjing
(thermalfog). Di Indonesia, yang digunakan adalah mesin fog yang diangkut
dengan mobil (dikenaldengan mesin ULV) dan mesin fog yang dijinjing.
Pengasapan insektisida dengan
mesin ULV dilaksanakan dengan cara menyemprotkaninsektisida ke lahan atau
bangunan yang dilewati di sepanjang jalan yang dapat dilalui kendaraan roda
empat. Dengan daya semprotnya yang kuat, diharapkan nyamuk yang berada di
halaman maupun di dalam rumah terpapar dengan insektisida dan dapat dibasmi
("knockdown effect"). Untuk mencapai hasil yang optimal, maka
sepanjang jalan yang dilalui harus dipastikan tidak ada penghalang antara mesin
dan lahan atau bangunan yang akan dilakukan pengasapan tersebut.
Pengasapan dengan mesin fog
jinjing dilaksanakan oleh petugas dari rumah ke rumah dalam radius 100 meter
mengelilingi rumah penderita ("fogging focus") karena diperkirakan
selama hidupnya nyamuk betina tersebut hanya terbang dalam jarak 50-100 meter.
Tidak seperti pengasapan dengan mesin ULV, pada pengasapan dengan mesin fog
jinjing seluruh pintu atau jendela rumah malah harus ditutup. Pengasapan
dilaksanakan oleh petugas dari dalam rumah untuk membunuh nyamuk dewasa yang
berada di dalam rumah, seperti halnya kita menyemprot menggunakan obat nyamuk.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2007.
http://www.litbang.deptan.go.id/berita/one/196/
Dharma, Rahayuningsih. 2006.
Disfungsi Endotel pada Demam Berdarah Dengue. Jurnal Makara, Kesehatan, Vol. 10
No. 1. Fakultas kedokteran, Universitas Indonesia.
Fathi, dkk. 2005. Peran Faktor
Lingkungan dan Perilaku terhadap Penularan Demam Berdarah Dengue di Kota
Mataram. Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol. 2, No.1 hal 1-10. Universitas
Airlangga.
Lawuyan, Stefanus. 2008.
Pembasmian Penyakit Demam Berdarah Dengue. Sekretaris Badan Perencanaan
Pembangunan Kota Surabaya.
Muhlisin, Abi danArum Pratiwi.
2006. Penanggulangan Demam Berdarah Dengue(DBD) di Kelurahan Singopuran
Kartasura Sukoharjo. Jurnal Warta , Vol. 9, No. 2, 123-129. Jurusan
Keperawatan, Fakultas Kedokteran Universitas Muhamadiyah Surakarta.
Qauliyah, Asta. 2007. Kemiripan
Penyakit Demam Berdarah (DBD) dengan Penyakit Lainnya. www.astaqauliyah.com
Diakses 22 April 2010 pukul 20.00.